berBAgi, Inovatif, Kreatif, distriBUtif, reaLIstis, kRitis

Pages

Saturday, September 10, 2016

W H O ?

Time, yeah, only the time who became witness, anything what we do. Kurang lebih two years ago kita tak berjumpa kembali. Dengan berbagai alasan ini itu yang membuat kita lama tidak bersua kembali. Baik itu dariku maupun darimu. Ya, memang tak dapat dipungkiri, kita memiliki kepentingan dan kegiatan masing-masing. Tapi, terlepas dari itu semua, sense(feeling) kita tak turut lepas kendali. Ya, perasaan, dengan berbagai define about the feeling.
Hii kamu yang disana, ingatkah kau akan diriku ? Semoga apa yang ku harapkan adalah jawaban darimu, ingat. Aku tau bagaimana kita dulu. From where we begin, How we are meet, from where we know one each other, why it can be happen, and the other  question. The essence is how we are in the past.
Aku masih mengingat pertama kali kita bertemu. Disebuah tempat yang kata orang adalah tempat nongkrong bareng. Itu semua berawal dari temanmu yang juga adik kelasku semasa junior high school dulu. Orang semacam aku bukanlah orang yang dengan mudahnya bisa percaya dan mau follow someone akan suatu hal. Istilahnya aku orangnya agak skeptis dan juga sedikit kritis setelah belajar berbagai hal. Tapi bukan berarti selalu mengskeptisi atau mengkritisi banyak hal. Entah gerangan apa yang datang padaku waktu itu untuk bergegas bertemu denganmu. Hingga ku langkahkan kaki menuju rendezvous kita tuk yang pertama kalinya.
Kala itu, kau meminta bantuanku akan suatu hal. Tapi setelah bertemu denganmu, tiba-tiba ada sesuatu yang muncul dalam benakku.
Kau dan temanmu datang lebih dulu dariku dan sudah menunggu didalam. Aku pun langsung menghampiri kalian. Aku pun terkesan pertama kali melihatmu. Engkau begitu penuh dengan keceriaan aku perhatikan kala itu. Singkat cerita kita bertiga pun mencari tempat duduk diluar.
Blablabla... setelah usai membantumu, kita pun jadi semakin cerita satu sama lain. Dimulai dari hal yang jelas sampe pada hal yang bisa dibilang ngalur-ngidur. Singkat cerita kita pun semakin dekat melalui chat/pesan.
Waktu itu pun terus berjalan. Aku pun mulai mengetahui akan sesuatu darimu. Love, ya, mungkin satu kata itu yang bisa merepresentasikan akan sense mu waktu itu. Seiring semakin meningkatnya tingkat intensitas kita di chat/pesan, aku pun sebenarnya juga sudah merasakan hal yang sama denganmu. Love, ya, satu kata itu lagi-lagi yang bisa menjadi representasi feelingku padamu kala itu, hingga saat ini.
Dan akhirnya, kita pun mulai mengetahui perasaan satu sama lain. In the past, you love me, and me too, I love you too. But, I don’t know why, menurutku waktu itu bukanlah saat yang tepat untuk menyatukan our feeling. Hal itu bukan berarti aku belum siap untuk menjalaninya bersamamu, karena ada faktor lain yang membuatku untuk menahan perasaan itu dulu. Tidak mungkin aku jabarkan faktor itu semua disini. I’ll tell you all about it when I see you again. I knowed how you feel to me in the past, very know ! Terlihat dari you’re attiude to me. Singkat cerita, perasaan itu terpendam dibenakku dan mulai membara kembali setelah aku melihatmu disuatu pagi. I hope, perasaan yang sama padamu untukku masih tetap sama seperti dulu.
Lalu sekarang bagaimana ? Akupun tak tau lagi mengenai perasaanmu padaku. Entah sama seperti yang kurasakan saat ini ataukah sudah berbeda seiring berjalannya waktu. Ku harap masih sama seperti dulu saat kau menyimpan perasaan itu untukku. Mungkin dulu adalah kecerobohanku tuk meninggalkanmu begitu saja dengan perasaanmu. Aku melakukan hal itu bukan berarti aku tidak memiliki perasaan padamu, tapi aku belajar untuk bisa menyimpan perasaan yang sebenarnnya padamu. Aku tak mau membuatmu kecewa terlebih dulu. Disamping itu aku juga disibukkan dengan kegiatanku ini itu dan sebagainya.
Aku pun mencoba untuk menghubungimu kembali. Ku cari kesana kemari untuk menguhubungimu, akhirnya aku teringat akan account sosial mediamu. Akupun mengirimkan sebuah email padamu. Email yang waktu itu pernah membantuku untuk menyelesaikan tugasku, thank you so much lovely. Namun, kau pun tak kunjung membalas email dariku. Aku menunggu akan balasan darimu :’).
Tidak hanya melalui email aku menghubungimu, aku juga mengirim direct message pada salah satu account sosial mediamu. Ku lihat, kau masih active pada sosial mediamu. Tapi kenapa kau tak membalas pesan dariku ? Did you have a new boyfriend right now ? Oh no, I don’t hope like that. Please answered no.
Email pun sudah kukirimkan padamu, direct message pun juga sudah ku kirimkan pada salah satu account sosial mediamu. Namun, hingga saat ini tak kunjung kudapatkan balasan darimu. Aku pun terus effort untuk menghubungimu. Teringatlah aku akan temanmu yang juga adik kelas ku kala junior high school dulu. Ku coba tuk menanyaimu melalui dia, dan akhirnya aku mendapatkan line mu. Aku pun menghubungimu melalui sebuah chat di line. Beberapa kali aku kirimkan pesan untukmu, tapi tak kunjung dibalas juga olehmu.
Aku menyadari akan kesalahan ku padamu di masa lampau. Tapi aku harap, jangan karena my ignorance, kita jadi lost contact sepenuhnya. Seandainya kau mengetahui perasaan ku kala itu, pastilah kau senang. Namun aku belajar untuk menyimpan perasaan. Walaupun sekarang sudah berbeda dengan yang dulu.
Banyak cerita ini itu yang ingin aku ceritakan padamu, tapi bagaimana caranya aku menceritakan itu semua jika kau tak merespon chat dari ku. Aku harap, melalui tulisanku yang sederhana ini, kau mampu mengerti dan memahami apa maksudku.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me on Twitter